Antologi Puisi – Jika

Maret 12, 2009

Jika

Aku tahu
tidak perlu dunia
aku akan paham
aku hanya seorang pemimpi

Setiap kata yang keluar dari bibir ini
bibir yang merah karena darah
darah mengalir dari gigitan keras
bergetar dalam dinginnya malam

Adalah kata-kata hatiku
hati seorang pemimpi
memimpikan utopia ideal
seperti mimpi pada umumnya

Mereka picik
lari dari kenyataan
memilih kematian
yang pasti

Ahh
Jika, jika, dan bila
kata yang keluar dari setiap mulut orang yang berharap
hampalah mereka

Aku tak tahu
apa lah yang pasti
tapi tak ada berguna
memangku tangan, bermimpi, dan jika

Manusia Hina

Belajar

September 3, 2008

Apakah perlunya belajar?

Ada enam kebaikan yang menjadi enam keburukan tanpa belajar.

  • Menyukai kebaikan hati tanpa menyukai belajar bisa mengakibatkan ketidakpedulian;
  • menyukai keterusterangan tanpa menyukai belajar bisa mengakibatkan salah arah;
  • menyukai kejujuran tanpa menyukai belajar bisa mengakibatkan kejahatan;
  • menyukai ketulusan tanpa menyukai belajar bisa mengakibatkan gegabah;
  • menyukai keberanian tanpa menyukai belajar bisa mengakibatkan kemalangan;
  • menyukai kehebatan tanpa menyukai belajar bisa mengakibatkan kelancangan.

Sekarang, apakah hal utama dalam belajar?

  1. Katakan pada diri anda sendiri: Saya mengerti, bila saya sudah mengerti. Saya belum mengerti, bila saya belum mengerti.
  2. Buang rasa malu dalam tujuan memperoleh pengetahuan.
  3. Tidak berbuat dengan kata-kata, namun dengan sebuah perbuatan konkrit.
  4. Sebelum mencari kesalahan orang lain, carilah dulu kesalahan anda.

Salam,

Arwin

Pendidikan

Agustus 13, 2008

n. pendidikan: pemeliharaan dan pemberian latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak(moral) dan kecerdasan pikiran

Sebagai lembaga pendidikan, sudah selayaknya sebuah sekolah memberikan latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak, dan kecerdasan pikiran. Namun kita harus melihat suatu ironi yang berkembang (dan menjadi trend) di masa kini, yaitu sekolah menjadi tempat “belajar-mengajar”. Beberapa sekolah di Indonesia ini hanya terfokus pada kecerdasan otak siswanya, tanpa mengembangkan kepribadian yang benar dari peserta didiknya.

Kita semua harus menyadari bahwa seorang murid, adalah bagai batu yang akan ditulisi oleh gurunya. Apapun yang diajarkan gurunya, maka itu akan tertulis pada batu tersebut. Namun, guru yang benar tidak hanya akan menulis pada batu itu, namun ia juga akan memahat, dan mengukir batu itu menjadi sosok yang indah serta berisi penuh tulisan yang bermakna. Inilah yang saya maksud dengan pendidikan.

Teman-teman sebangsa dan setanah air, terutama bagi para pendidik di Bumi Indonesia tercinta, perlulah kita sadari, guru bukan sekedar fasilitas untuk memberikan ilmu pada kita. Kita punya buku, internet, dan sarana lainnya untuk itu. Guru adalah pembentuk karakter peserta didik. Maju terus pendidikan Indonesia.

Salam,

Arwin

Berlebih – Terlalu

Agustus 5, 2008

Oke, saya akan memulai post ini dengan sebuah perumpamaan:

Bila anda menuang teh kedalam gelas, apa yang anda dapatkan bila anda menuangkan TERLALU banyak? Tentunya sebagian teh akan tumpah dan menjadi sia-sia. Apa yang anda dapatkan bila anda menuang teh sampai ke tepi gelas? Anda akan kesulitan untuk menggerakan gelas itu karena takut tumpah. Untuk menghindari hal-hal seperti ini, anda tidak akan mengisi gelas sampai penuh. Tapi apa yang anda dapatkan bila anda mengisi gelas itu TERLALU sedikit? Tentunya anda tidak memperoleh kepuasan dari minum teh itu sendiri. Sehingga yang terbaik adalah, anda menyesuaikan sendiri seberapa teh yang harus anda tuangkan agar tidak TERLALU sedikit maupun banyak.

Setidaknya kita semua tahu apa yang ingin saya katakan. Adanya suatu efek dari segala sesuatu yang TERLALU yang tidak baik. Kita sebagai manusia harus hidup selayaknya manusia, menahan diri dan mampu menyesuaikan diri agar tidak TERLALU.

Teman-teman sebangsa dan setanah air, air akan meluap jika dituangkan sampai ke tepi. Pisau yang terlalu tajam akan mudah putus. Orang yang mempunyai terlalu banyak barang berharga menimbulkan iri hati dan diperhatikan penjahat. Kekayaan yang berlebih ini akan membuat dia risau sampai semua kekayaannya itu habis. Untuk berhasil dalam hidup, orang harus jujur. Ini sesuai dengan hukum alam. Seperti ciptaan, anda melihat semua makhluk hidup. Ciptaan tidak mempunyai motif untuk mementingkan diri sendiri, tetapi menyeluruh dan dibentuk secara tenang.

Kesempurnaan hidup

Juli 31, 2008

Bila kita semua sadar akan keberadaan kita sebagai manusia, tentunya kita semua sadar bahwa tiada dari kita yang sempurna. Tapi seperti kata mereka, apa salahnya untuk membiarkan diri kita semakin sempurna.

Tapi apa itu yang dimaksud dengan sempurna?

Definisi sempurna adalah memiliki kesemuanya dalam keharmonisan dengan tujuan yang tepat. Apa yang bisa kita ambil dari definisi ini? Sempurna bukanlah tiada cacat. Kesempurnaan bisa diperoleh dengan menjadi diri anda sendiri. Dengan melakukan bagian dan tugas anda dalam hidup ini, anda telah membantu diri anda sendiri mendukung kesempurnaan hidup.

Dari posting ini, yang ingin saya katakan adalah: Kesempurnaan adalah bagaimana anda melihat diri anda sendiri, dan menyadari bahwa anda memang sempurna. Tak ada yang perlu mengubah diri anda sendiri, dan tak perlu anda merubah diri orang lain.

Teman-teman sebangsa dan setanah air,
Garam memang terasa asin dan cuka memang terasa asam dan pahit. Tapi karena rasanya yang asin, asam, dan pahit itulah dapat menciptakan paduan rasa yang nikmat dari bahan makanan yang hambar. Hidup anda seperti garam, seperti cuka. Bila anda melihatnya hanya sebagai garam yang asin, maka bersenang hatilah, bahwa memang seperti itulah seharusnya yang terjadi. Bila garam tidak lagi asin, dan cuka tidak lagi asam, maka apalah guna menambahkannya pada makanan?

Dilema Komunikasi

Juli 27, 2008

“Telepon 24 Jam: GRATIS”

“SMS Kemana aja, suka-suka, Gratis”

“Telepon sampai ndower, GRATIS”

Semua iklan dimana-mana, dari bilboard, televisi, sampai koran dan majalah. Semua iklan dengan pulsa murah, hingga gratis. Kemajuan? BUKAN! PEMBODOHAN! Kita semua disuruh telepon, konsumtif pulsa. Waktu kita dihabis-habiskan untuk telepon melulu. Waktu kerja kita telepon, waktu sekolah kita telepon, bahkan sampe jam 12 pagi kita masih telepon, soalnya jam gratisnya baru mulai. Kita sampai bisa punya 5 handphone di tas, hanya karena yang satu gratis sama provider yang sama. Bodoh sekali!

Telepon kalau kita perlu, apa sebenarnya tujuan kita punya telepon? Waktu untuk produksi kita habiskan untuk ngomong melulu. Jelaslah bila tingkat produktivitas orang Indonesia rendah. 24 Jam kita habiskan untuk menelepon. Bodoh, sungguh bodoh. Anda boleh katakan saya orang yang gak gaul, terserah. Apakah dari menelepon itu anda bisa memperoleh sesuatu?

Teman-teman sebangsa dan setanah air. Ingatlah apa prioritas kita. Jangan tergoda buaian-buaian iklan yang tak berguna seperti ini. Gunakan waktu sebaik mungkin. Semoga blog singkat ini bisa berguna bagi kita semua.